Skip to main content

Posts

Showing posts with the label pengalaman

Mendadak Jawa (1) - Gegar Budaya

Dulu, akibat tuntutan pekerjaan papa yang sering dipindah-tugaskan, saya ikut pindah sekolah dari Palembang (Sumatera Selatan) ke Cilacap (Jawa Tengah). Ini benar-benar hal baru bagi saya, yang waktu itu masih kelas 5 SD. Dan memang kepindahan ini merupakan yang pertama kali dalam sejarah karier beliau, yang dipindahtugaskan ke daerah lain selain Plaju. Saya tau berita kepindahan papa pun dari si kembar Rina-Rini, teman sekelas saya yang ayahnya merupakan rekan kerja papa. "Nit, ayahmu mau pindah tugas ya?" ujar Rina. "Haah? nggak ah.." "Iya, ayah bilang mau dipindah jadi manager di Cilacap" Rini menambahkan dengan gaya meyakinkan. Saya sebagai anak dari orang yang diperbincangkan cuma bisa menatap gak yakin. Seumur hidup gak pernah sekalipun terpikir oleh saya tentang dunia lain selain di sini. Ya iyalah.. otak anak kelas 5 SD isinya cuma sekolah sama main. Malamnya, usai shalat maghrib, papa baru memberi kepastian soal berita tersebut. ...

Mitos "Cuci Piring di Restoran"

Entah sejak kapan muncul anggapan atau persepsi di masyarakat bahwa kalo kamu kekurangan uang untuk membayar makanan di restoran, kamu bisa menggantinya dengan mencuci piring atau minimal bantu bersih-bersih di restoran tersebut. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari gak banyak orang yang mencoba opsi tersebut saat kekurangan uang atau ketinggalan dompet. Kebanyakan orang memilih berhutang ke teman makannya, atau menelepon kenalan/keluaga terdekat untuk membantu membayar tagihan. Tapi bagaimana dengan orang yang benar-benar kepepet dan mencoba opsi mencuci piring tersebut? Scotch-Brite lets young diners wash dishes instead of paying their bill. Karena penasaran, seorang pengguna Quora * mengajukan pertanyaan terbuka di situs tersebut: " Will restaurants actually allow you to wash dishes as compensation if you cannot pay? " (Akankah restoran memperbolehkanmu mencuci piring sebagai kompensasi atas ketidakmampuanmu untuk membayar?) Pertanyaan tersebut segera mendap...

Perjuangan Nonton Film & Baca Buku Harry Potter 1-7

Barusan gak sengaja nonton Harry Potter and The Goblet of Fire di R*TI, jadi ingat masa lalu. Ahaay.. Oke, bukan gak sengaja juga sih. Kalo nonton di TV swasta Indonesia sudah pasti sengaja ya, secara iklannya ter..la..lu.. Kadang yang bikin males nonton film di TV kita tuh karena berasa nonton iklan diselingi film. Iya, iklannya yang diselingi film. Zzzz.. Sumber: en.wikipedia.org Balik ke topik Harry Potter, saya pertama kenal Harry Potter itu dari baca buku punya sepupu, kira-kira tahun 2000 (15 tahun yang lalu man , gak terasa!). Lucunya, waktu itu yang saya baca ternyata buku HarPot yang kedua, yaitu Harry Potter and The Chamber of Secret s. Tapi itu tak menghalangi saya untuk jatuh cinta dengan buku tersebut. Hahassik. Saya makin excited waktu diumumkan bahwa Harry Potter bakal dibikin filmnya. Saya ingat saat film pertamanya tayang di bioskop tahun 2001, semua orang mendadak ngebahas HarPot. Waktu itu saya masih SD, masih tinggal di Palembang, dan papa masih kerja di...

God Works in Mysterious Way

Mungkin kamu udah sering dengar nasehat, “ be careful what you wish for, you just might get it ”. Saya tau kalimat itu dari zaman SD, zaman-zamannya saya keranjingan minjem " Goosebumps " di perpus Komperta Plaju. Nah, saya tau kalimat tersebut ya dari buku itu.hahaay.. (ternyata bermanfaat). Saya udah lama gak mikirin kalimat itu, tapi suatu hari sekitar 5 tahun yang lalu saat saya kelas 2 SMA, kalimat itu muncul lagi di kepala gara-gara kejadian ini. Waktu itu saya udah sering banget mikir pengen ganti kacamata, soalnya kacamata yang saya pake saat itu rasanya udah gak nyaman banget. Gagangnya gak beres akibat terpapar kerasnya kehidupan dunia (baca: sering jatuh). Akhirnya hari itu saya curhat ke kakak. "Hadeeeuh, pengen ganti kacamata deh. Ini udah gak nyaman banget dipakenya" (sambil betulin posisi kacamata).  "Bilang ke papa laaah, masa ke kak Osi", kata kakakku yang ketiga. "Papa kan gak di rumah, lagian nggak enak mau ngomongnya......

Mahasiswa dan Pecahan 100ribu

Entah sejak kapan mesin-mesin ATM yang mejeng di ATM Center di IPB Dramaga cuma nyediain pecahan 100ribu rupiah. Errr , gak tau kalo ATM bank yang di rektorat ya, secara saya jarang banget ngunjungin rektorat kecuali kalo ngumpulin PKM atau ngecek beasiswa *ups*, tapi yang jelas rata-rata mesin ATM di situ hanya menyediakan pecahan 100ribu. Dari sinilah berbagai hambatan, tantangan, gangguan, dan ancaman dimulai..... #jeng jeng You know what? Ini sering banget terjadi, tapi kita ambil contoh aja kejadian kemarin yang saya alami. Habis kuliah Metode Karya Ilmiah kemarin, saya laper parah dooong secara dosennya sukses berat bikin  anak sekelas bergidik tentang horornya sidang skripsi kalo kamu gak ngerjain skripsi dengan sungguh-sungguh. Jadilah kami rame-rame makan di kantin kesayangan kami, Blue Corner (BC). Kantin BC ini favorit saya dari jaman semester 3 sampe sekarang (berarti udah 2,5 tahunan) secara makanannya enak dan gak menguras kantong. Ada banyak pilihan di sini, k...

Pulang Kampung!!

Pulang Kampung!! ialah pengalaman saya mudik ke Palembang sekitar tahun 2007/2008 lalu. Sudah lumayan lama ya ternyata. Tulisan ini pun bermula karena kangen, sambil mengenang masa-masa itu. Jadi, w aktu itu bener2 pulang kampung deh, soalnya sempat mampir ke tanah leluhur  bareng keluarga besar termasuk sepupu2, om, dan tante. Berangkat pagi setelah sahur H-2 Idul Fitri,   and finally , sampai di desa ( atau dusun? * kamu bakal ngerti sendiri) Ogan Komering Ulu Surabaya pas sore hari. Ada yang pernah denger? Wilayah itu klo gak salah deket2 perbatasan Sumsel-Lampung gitu. Begitu sampai, langsung deh lihat2 sekitar tengok kiri kanan. Trnyata masih banyak rumah panggung, listrik jg masih jarang, dan hal yg terlintas di benak saya waktu itu entah mengapa adalah:  "ni dusun keren bgt!"  (ckckck, dasar anak kota kampungan :p). Trs lihat sungai, keren bgt. Pasir deket sungai itu pasir putih, jd serasa di pantai, cuma gak ada ombaknya aja. Terus n...